Senin, 14 April 2014

Jasindo Gandeng Bank Mandiri untuk Lindungi TKI



Liputan6.com, Jakarta Guna memperkuat perlindungan tenaga kerja Indonesia di luar negeri, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Konsorsium Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo) menggandeng Bank Mandiri di Kuala Lumpur, Malaysia untuk memberikan pelayanan asuransi kepada TKI di negeri Jiran itu.
Pembukaan jasa pelayanan asuransi TKI oleh Jasindo ini merupakan komitmen untuk memberikan pelayanan langsung kepada TKI di negara penempatan.
Menurut Direktur Operasional Ritel Jasindo, Sahata L Tobing, kerjasama Jasindo dengan Mandiri ini dimaksudkan untuk memudahkan TKI mendapatkan perlindungan di Malaysia, dengan mengirimkan premi asuransi dari TKI di Malaysia ke rekening Konsorsium Jasindo di Indonesia.
"Banyak TKI yang akan memperpanjang kontrak kerja di Malaysia selama ini mengalami kesulitan untuk membayar asuransi sebelum mendapatkan Kartu Tenaga Kerja Luar Negeri (KTKLN)," papar Sahata, dalam keterangan yang diterbitkan, Rabu (9/4/2014).
Sahata menjelaskan, tujuan pembukaan pelayanan ini yaitu untuk memberi kemudahan jika terjadi klaim TKI di Malaysia. Pasalnya, tidak sedikit kasus-kasus TKI di Malaysia sebelum ini mengalami permasalahan karena kesulitan untuk mencairkan klaim. “Kami harus jemput bola dan pro aktif untuk melindungi TKI di negara penempatan,” paparnya.
Melalui kerjasama ini, selain meningkatkan pelayanan juga untuk meningkatkan komunikasi antar  agen tenaga kerja dan pabrik (tempat bekerja TKI).
Mandiri hadir lebih dulu di malaysia dengan nama Mandiri International Remittance (MIR) Sdn Bhd. (MIR) membuka cabang di Malaysia sejak tahun 2009 bergerak d bidang usaha Remitansi. Saat ini memiliki 8 Cabang yang berada tersebar di Klang Valley, Ipoh Perak, Penang, Tawaw, Kinibalu, Johor Bahru, Seurawak, Kuala Lumpur.
Karena itu, kata Sahata, kerjasama ini juga akan memperluas bisnis tradisional Mandiri berupa jasa pengurusan pengiriman uang (remitansi) dari TKI kepada keluarga di tanah air.
Sahata menambahkan, Jasindo sebelumnya sudah diberi izin oleh pemerintah Malaysia untuk membuka jasa pelayanan asuransi TKI.
“MIR telah mendapatkan persetujuan dari Bank Negara Malaysia untuk bekerjasama dengan PT Jasindo melalui perwakilan luar negerinya yaitu Jetuah Agensi Pekerjaan untuk menjadi agen penerima pembayaran bagi pembelian asuransi TKI yang merupakan asuransi yang wajib dimiliki oleh setiap TKI yg bekerja di LN," terangnya.
Jasindo terus menerus dan secara sistematis meningkatkan perlindungan Calon TKI/TKI dan keluarganya yang memberikan manfaat langsung terhadap perlindungan CTKI/TKI baik di dalam negeri maupun di luar negeri.
Peningkatan perlindungan bagi TKI itu merupakan komitmen Jasindo untuk meningkatkan keselamatan TKI di tempat kerjanya baik sebelum berangkat, ketika bekerja di luar negeri dan ketika kembali ke tanah air.
Sahata menambahkan, salah satu semangat perubahan penyelenggaraan program asuransi TKI yang dilakukan Jasindo adalah aspek pelayanan, kemudahan dan penyederhanaan prosedur mengajuan klaim asuransi, transparansi dan akuntabilitas.
“Sebagai perusahaan BUMN, kami memiliki kewajiban moral untuk melindungi TKI baik pada masa pra penempatan, penempatan hingga purna penempatan,”  papar Sahata.
(Agustina Melani)

Minggu, 13 April 2014

Dahlan Dorong Bank Mandiri Jadi Terbesar di Asia

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Dahlan Iskan merasa belum puas dengan kinerja Bank Mandiri. Oleh karena itu, ia menilai, bank Mandiri belum dapat disebut bank terbesar di Indonesia.

Dahlan menuturkan, salah satu hal yang mengganjal Bank Mandiri untuk menjadi bank terbesar di Indonesia kapitalisasi kecil sehingga membuat Bank Mandiri tidak dapat bersaing.

Padahal berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), kapitalisasi pasar saham PT Bank Mandiri Tbk mencapai Rp 181 triliun pada Senin (23/12/2013). Memang angka kapitalisasi pasar ini masih kalah dibandingkan kapitalisasi pasar saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang mencapai Rp 232 triliun.

"Itu lah yang dialami oleh Bank Mandiri, sudah menjadi yang terbesar, tapi masih ada satu yang mengganjal," kata Dahlan, saat menghadiri acara perjanjian jual beli saham bersayarat asuransi Jiwa Inhealth, di Plaza Mandiri Jakarta, Selasa (23/12/2013).

Dahlan  pun mengibaratkan, Bank Mandiri seperti pertandingan sepak bola Liverpool melawan Cardiff City yang berlangsung Sabtu malam lalu. Meski menang, klub sepak bola Inggris tersebut masih terganjal angka satu, bukan menang mutlak.

"Sekarang ini Mandiri di Indonesia, menangnya masih ngeganjel, ibarat Liverpool tadi malam, menang 3:1 itu masih ada 1 unsur yang menganjal," ungkapnya.

Dahlan berkeinginan Bank Mandiri menjadi salah satu perbankan besar di Asia. Namun, untuk menjadikan Bank Mandiri besar tidaklah mudah. Banyak proses yang harus dilakukan.

Salah satunya adalah, langkah akuisisi anak usaha PT Askes (Persero) PT Asuransi Jiwa InHealth Indonesia (InHealth) dengan 60 % kepemilikannya, dan menjadi pemegang saham mayoritas.

Bank Mandiri bersama Kimia Farma dan Jasindo mengakuisisi anak perusahaan milik Askes, PT Asuransi Jiwa Inhealth Indonesia (Inhealth) dengan nilai akuisisi Rp 1,75 triliun.

Direktur Utama Bank Mandiri Budi Gunadi Sadikin mengatakan, akuisisi tersebut dilakukan untuk mendukung progam pemerintah dan menguatkan sinergi Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Dengan akuisisi ini, Bank Mandiri nantinya akan memiliki 80% saham Inhealth, sementara Kimia Farma dan Jasindo masing-masing memiliki 10% kepemilikan saham.

"Akuisisi InHealth ini adalah inisiatif Bank Mandiri untuk menyukseskan implementasi BPJS Kesehatan sekaligus memanfaatkan peluang di sektor asuransi kesehatan," pungkas Budi. (Pew/Ahm) - See more at: http://bisnis.liputan6.com/read/783008/dahlan-dorong-bank-mandiri-jadi-terbesar-di-asia#sthash.2UV0nlOV.dpuf
Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Dahlan Iskan merasa belum puas dengan kinerja Bank Mandiri. Oleh karena itu, ia menilai, bank Mandiri belum dapat disebut bank terbesar di Indonesia.

Dahlan menuturkan, salah satu hal yang mengganjal Bank Mandiri untuk menjadi bank terbesar di Indonesia kapitalisasi kecil sehingga membuat Bank Mandiri tidak dapat bersaing.

Padahal berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), kapitalisasi pasar saham PT Bank Mandiri Tbk mencapai Rp 181 triliun pada Senin (23/12/2013). Memang angka kapitalisasi pasar ini masih kalah dibandingkan kapitalisasi pasar saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang mencapai Rp 232 triliun.

"Itu lah yang dialami oleh Bank Mandiri, sudah menjadi yang terbesar, tapi masih ada satu yang mengganjal," kata Dahlan, saat menghadiri acara perjanjian jual beli saham bersayarat asuransi Jiwa Inhealth, di Plaza Mandiri Jakarta, Selasa (23/12/2013).

Dahlan  pun mengibaratkan, Bank Mandiri seperti pertandingan sepak bola Liverpool melawan Cardiff City yang berlangsung Sabtu malam lalu. Meski menang, klub sepak bola Inggris tersebut masih terganjal angka satu, bukan menang mutlak.

"Sekarang ini Mandiri di Indonesia, menangnya masih ngeganjel, ibarat Liverpool tadi malam, menang 3:1 itu masih ada 1 unsur yang menganjal," ungkapnya.

Dahlan berkeinginan Bank Mandiri menjadi salah satu perbankan besar di Asia. Namun, untuk menjadikan Bank Mandiri besar tidaklah mudah. Banyak proses yang harus dilakukan.

Salah satunya adalah, langkah akuisisi anak usaha PT Askes (Persero) PT Asuransi Jiwa InHealth Indonesia (InHealth) dengan 60 % kepemilikannya, dan menjadi pemegang saham mayoritas.

Bank Mandiri bersama Kimia Farma dan Jasindo mengakuisisi anak perusahaan milik Askes, PT Asuransi Jiwa Inhealth Indonesia (Inhealth) dengan nilai akuisisi Rp 1,75 triliun.

Direktur Utama Bank Mandiri Budi Gunadi Sadikin mengatakan, akuisisi tersebut dilakukan untuk mendukung progam pemerintah dan menguatkan sinergi Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Dengan akuisisi ini, Bank Mandiri nantinya akan memiliki 80% saham Inhealth, sementara Kimia Farma dan Jasindo masing-masing memiliki 10% kepemilikan saham.

"Akuisisi InHealth ini adalah inisiatif Bank Mandiri untuk menyukseskan implementasi BPJS Kesehatan sekaligus memanfaatkan peluang di sektor asuransi kesehatan," pungkas Budi. (Pew/Ahm) - See more at: http://bisnis.liputan6.com/read/783008/dahlan-dorong-bank-mandiri-jadi-terbesar-di-asia#sthash.2UV0nlOV.dpuf
Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Dahlan Iskan merasa belum puas dengan kinerja Bank Mandiri. Oleh karena itu, ia menilai, bank Mandiri belum dapat disebut bank terbesar di Indonesia.

Dahlan menuturkan, salah satu hal yang mengganjal Bank Mandiri untuk menjadi bank terbesar di Indonesia kapitalisasi kecil sehingga membuat Bank Mandiri tidak dapat bersaing.

Padahal berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), kapitalisasi pasar saham PT Bank Mandiri Tbk mencapai Rp 181 triliun pada Senin (23/12/2013). Memang angka kapitalisasi pasar ini masih kalah dibandingkan kapitalisasi pasar saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang mencapai Rp 232 triliun.

"Itu lah yang dialami oleh Bank Mandiri, sudah menjadi yang terbesar, tapi masih ada satu yang mengganjal," kata Dahlan, saat menghadiri acara perjanjian jual beli saham bersayarat asuransi Jiwa Inhealth, di Plaza Mandiri Jakarta, Selasa (23/12/2013).

Dahlan  pun mengibaratkan, Bank Mandiri seperti pertandingan sepak bola Liverpool melawan Cardiff City yang berlangsung Sabtu malam lalu. Meski menang, klub sepak bola Inggris tersebut masih terganjal angka satu, bukan menang mutlak.

"Sekarang ini Mandiri di Indonesia, menangnya masih ngeganjel, ibarat Liverpool tadi malam, menang 3:1 itu masih ada 1 unsur yang menganjal," ungkapnya.

Dahlan berkeinginan Bank Mandiri menjadi salah satu perbankan besar di Asia. Namun, untuk menjadikan Bank Mandiri besar tidaklah mudah. Banyak proses yang harus dilakukan.

Salah satunya adalah, langkah akuisisi anak usaha PT Askes (Persero) PT Asuransi Jiwa InHealth Indonesia (InHealth) dengan 60 % kepemilikannya, dan menjadi pemegang saham mayoritas.

Bank Mandiri bersama Kimia Farma dan Jasindo mengakuisisi anak perusahaan milik Askes, PT Asuransi Jiwa Inhealth Indonesia (Inhealth) dengan nilai akuisisi Rp 1,75 triliun.

Direktur Utama Bank Mandiri Budi Gunadi Sadikin mengatakan, akuisisi tersebut dilakukan untuk mendukung progam pemerintah dan menguatkan sinergi Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Dengan akuisisi ini, Bank Mandiri nantinya akan memiliki 80% saham Inhealth, sementara Kimia Farma dan Jasindo masing-masing memiliki 10% kepemilikan saham.

"Akuisisi InHealth ini adalah inisiatif Bank Mandiri untuk menyukseskan implementasi BPJS Kesehatan sekaligus memanfaatkan peluang di sektor asuransi kesehatan," pungkas Budi. (Pew/Ahm)
- See more at: http://bisnis.liputan6.com/read/783008/dahlan-dorong-bank-mandiri-jadi-terbesar-di-asia#sthash.2UV0nlOV.dpuf
Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Dahlan Iskan merasa belum puas dengan kinerja Bank Mandiri. Oleh karena itu, ia menilai, bank Mandiri belum dapat disebut bank terbesar di Indonesia.

Dahlan menuturkan, salah satu hal yang mengganjal Bank Mandiri untuk menjadi bank terbesar di Indonesia kapitalisasi kecil sehingga membuat Bank Mandiri tidak dapat bersaing.

Padahal berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), kapitalisasi pasar saham PT Bank Mandiri Tbk mencapai Rp 181 triliun pada Senin (23/12/2013). Memang angka kapitalisasi pasar ini masih kalah dibandingkan kapitalisasi pasar saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang mencapai Rp 232 triliun.

"Itu lah yang dialami oleh Bank Mandiri, sudah menjadi yang terbesar, tapi masih ada satu yang mengganjal," kata Dahlan, saat menghadiri acara perjanjian jual beli saham bersayarat asuransi Jiwa Inhealth, di Plaza Mandiri Jakarta, Selasa (23/12/2013).

Dahlan  pun mengibaratkan, Bank Mandiri seperti pertandingan sepak bola Liverpool melawan Cardiff City yang berlangsung Sabtu malam lalu. Meski menang, klub sepak bola Inggris tersebut masih terganjal angka satu, bukan menang mutlak.

"Sekarang ini Mandiri di Indonesia, menangnya masih ngeganjel, ibarat Liverpool tadi malam, menang 3:1 itu masih ada 1 unsur yang menganjal," ungkapnya.

Dahlan berkeinginan Bank Mandiri menjadi salah satu perbankan besar di Asia. Namun, untuk menjadikan Bank Mandiri besar tidaklah mudah. Banyak proses yang harus dilakukan.

Salah satunya adalah, langkah akuisisi anak usaha PT Askes (Persero) PT Asuransi Jiwa InHealth Indonesia (InHealth) dengan 60 % kepemilikannya, dan menjadi pemegang saham mayoritas.

Bank Mandiri bersama Kimia Farma dan Jasindo mengakuisisi anak perusahaan milik Askes, PT Asuransi Jiwa Inhealth Indonesia (Inhealth) dengan nilai akuisisi Rp 1,75 triliun.

Direktur Utama Bank Mandiri Budi Gunadi Sadikin mengatakan, akuisisi tersebut dilakukan untuk mendukung progam pemerintah dan menguatkan sinergi Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Dengan akuisisi ini, Bank Mandiri nantinya akan memiliki 80% saham Inhealth, sementara Kimia Farma dan Jasindo masing-masing memiliki 10% kepemilikan saham.

"Akuisisi InHealth ini adalah inisiatif Bank Mandiri untuk menyukseskan implementasi BPJS Kesehatan sekaligus memanfaatkan peluang di sektor asuransi kesehatan," pungkas Budi. (Pew/Ahm) - See more at: http://bisnis.liputan6.com/read/783008/dahlan-dorong-bank-mandiri-jadi-terbesar-di-asia#sthash.2UV0nlOV.dpuf

Sabtu, 12 April 2014

Bank Mandiri Bank Terbaik di Indonesia

Artikel ini, Saya buat untuk mengikuti mandiri SEO kontes yang diadakan oleh Bank Mandiri


Disamping mengikuti SEO kontes Bank Mandiri, terselip pula harapan lain, semoga tulisan ini akan dapat menambah wawasan dan pencerahan kepada masyarakat untuk lebih mengetahui mengenai PT Bank Mandiri (PERSERO) Tbk, Indonesia

Visi dan Misi Bank Mandiri
Visi, Menjadi Lembaga Keuangan Indonesia yang paling dikagumi dan selalu progresif
Misi
*Berorientasi pada pemenuhan kebutuhan pasar
*Mengembangkan sumber daya manusia profesional
*Memberikan keuntungan yang maksimal bagi stakeholder
*Melaksanakan manajemen terbuka
*Peduli terhadap kepentingan masyarakat dan lingkungan
Dengan sederet perolehan penghargaan, baik dari dalam maupun luar negeri, didukung dengan pelayanan yang baik kepada pelanggan, Tidak dapat disangkal lagi, jika banyak orang yang berpendapat bahwa, Bank Mandiri Bank Terbaik di Indonesia
Jadi, “Apapun keinginan Anda, Mandiri saja”  Itulah slogan terbaru dari PT Bank Mandiri (PERSERO) Tbk, kalimat seperti ini sering kita jumpai pada Baliho, media tulis maupun media visual

Apapun keinginan Anda, Mandiri saja

Saya menjadi nasabah Bank Mandiri Banjarmasin, sejak tahun 2010 yang lalu, selama kurun waktu tiga tahun menjadi nasabah di bank ini, Saya "belum pernah" mendapat pelayanan yang kurang menyenangkan atau mengalami kesulitan dalam melakukan transaksi
Dari sekian banyak layanan jasa yang tersedia pada Bank Mandiri, seperti Tabungan, Giro, Deposito, Pinjaman, Investasi, KPR, Kartu Kredit, dan lainnya

Saya, baru bisa memanfaatkan tiga jenis layanan saja yaitu “Mandiri Tabungan, Mandiri ATM, dan SMS Banking”
Pada waktu mendatang,  seiring dengan meningkatnya kebutuhan, Saya ingin juga menggunakan fasilitas layanan Bank Mandiri yang lainnya

Perjalanan panjang Bank Mandiri
Bank Mandiri berdiri pada 2 Oktober 1998, sebagai hasil dari "Restrukturisasi Perbankan” yang dilaksanakan oleh Pemerintah Indonesia
Pada Juli 1999, Empat bank milik pemerintah, Bank Dagang Negara, Bank Bumi Daya, Bank Ekspor Impor Indonesia, Dan Bank Pembangunan Indonesia, bergabung menjadi satu dengan nama baru yaitu, Bank Mandiri
Setelah selesai merger, Bank Mandiri kemudian melaksanakan konsolidasi internal, diantaranya dengan mengurangi jumlah kantor cabang dan merampingkan jumlah karyawannya
Hasil dari pelaksanaan penataan ulang organisasi tersebut, sejumlah kantor cabang Bank Mandiri yang letaknya saling berdekatan dikurangi sebanyak 194 buah dan jumlah karyawannya dirampingkan dari 26.600 menjadi 17.620 orang
Pejabat Direktur Utama Bank Mandiri untuk yang pertama kalinya, dipegang oleh Bapak Robby Djohan

Seiring dengan berjalannya waktu, Direktur Utama Bank Mandiri kemudian dijabat oleh Bapak ECW Neloe (Mei 2000), dan pada lima tahun berikutnya, Bapak Agus Martowardojo (Mei 2005) ditunjuk sebagai Direktur Utama Bank Mandiri
Pada saat itu (Tahun 2005), Jumlah Kantor Cabang Bank Mandiri diseluruh Indonesia sebanyak 829 buah, ditambah dengan 6 buah kantor cabang diluar negeri

Ada yang ingin ditanyakan? Hubungi Nomer diatas ini
Perkembangan Bank Mandiri Bank
Di Tahun 2005, Bank Mandiri mulai menjalankan Program Transformasi Tahap I, untuk membentuk Bank Mandiri menjadi Bank Multi Spesialis yang dominan
Pelaksanaan Transformasi Tahap I ini, secara konsisten telah berhasil meningkatkan kinerja Bank Mandiri

Keberhasilan ini dapat terlihat dari peningkatan berbagai parameter finansial, antara lain,
*Peningkatan laba bersih dari 0,6 T (Tahun 2005) menjadi 9,2 T (Tahun 2010)
*Turunnya jumlah kredit yang bermasalah dari 15,34% (Tahun 2005) menjadi 0,62% (Tahun 2010)
Saat ini, Bank Mandiri tengah melaksanakan Program Transformasi Lanjutan ke Tahap II (2010-2014)  dengan merevitalisasi visi dan misi untuk menjadi Lembaga Keuangan yang paling dikagumi dan selalu Progresif
Bank Mandiri juga, berambisi untuk masuk dalam jajaran “Top 5 Bank di ASEAN” pada tahun 2014
Direktur Utama PT Bank Mandiri (PERSERO) Tbk, saat ini dijabat oleh Bapak Zulkifli Zaini
Pada Tahun 2012, Bank Mandiri telah mempunyai 1.548 buah kantor cabang (dari 948 kantor cabang pada tahun 2005) ditambah dengan 7 buah kantor cabang luar negeri (Tahun 2005 lalu, 6 cabang), dengan jumlah karyawan sebanyak 28.183 orang

Sudahkah Anda terdaftar sebagai nasabah Bank Mandiri?

Segmen Usaha dan Layanan Jasa Bank Mandiri
Pembiayaan untuk Modal Kerja dan Kredit Investasi, Pembiayaan Khusus, Trade Finance & Service, Cash Management

Giro, Deposito, Pinjaman, Investasi, UMKM, Mandiri KTA, Mandiri KPR, Mandiri Tabungan, Mandiri Tabungan Rencana, Mandiri Kartu Kredit, Mobile Banking, Internet Banking, SMS Banking, e-Toll Card, m-ATM, ATM, Pengiriman Uang, dan Program Mandiri Fiesta
Mau tahu lebih banyak, hubungi Call Center 14000

sumber//  http://mahakam24.blogspot.com/2013/02/bank-mandiri-bank-terbaik-di-indonesia.html

Jumat, 11 April 2014

PT Bank Mandiri (PERSERO) Tbk


PT Bank Mandiri (PERSERO) Tbk berdiri tanggal 2 Oktober 1998 sebagai bagian dari program restrukturisasi perbankan yang dilaksanakan oleh Pemerintah Indonesia. Bank Mandiri ini merupakan gabungan dari empat bank milik Pemerintah yaitu, Bank Bumi Daya (BBD), Bank Dagang Negara (BDN), Bank Ekspor Impor Indonesia (Bank Exim), dan Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo).
PT Bank Mandiri (PERSERO) Tbk berkomitmen untuk memberikan keunggulan dalam layanan perbankan dan menyediakan solusi keuangan yang luas di perbankan. Upaya yang konsisten Bank Mandiri telah mengumpulkan pengakuan dari lembaga domestik dan internasional. Bank Mandiri sebagai perusahaan “Terpercaya” dan perusahaan terbaik di sektor keuangan. Nasabah Bank Mandiri yang terdiri dari berbagai segmen dan merupakan penggerak utama perekonomian Indonesia. Berdasarkan sektor usaha, nasabah Bank Mandiri bergerak dibidang usaha yang sangat beragam. Dalam perjalanan menjadi lembaga keuangan yang paling dikagumi dan progresif di Indonesia, Bank Mandiri memberikan kesempatan menarik untuk mengembangkan aspirasi karir Anda Lowongan Kerja 2013 pada posisi sebagai berikut :
Officer Development Program
Syaratnya :
  • Lulusan S1/S2 atau mahasiswa yang telah menyelesaikan teori/bebas teori dari berbagai disiplin ilmu yaitu : Teknik, Ekonomi, MIPA (Matematika & Statistika), FISIP (Hubungan Internasional, Ilmu Administrasi Niaga,Ilmu Komunikasi), Hukum, Pertanian & Ilmu Komputer.
  • IPK minimal 3.00 untuk lulusan S1 dan 3.20 untuk lulusan S2.
  • Usia maksimal pada saat seleksi awal : S1 maks. 25 thn & S2 maks. 27 thn.
  • Mampu mengoperasikan komputer
  • Tidak memiliki ayah/ibu/saudara kandung yang aktif di Bank Mandiri
  • Belum menikah dan bersedia tidak menikah selama pendidikan
  • Bersedia ditempatkan di seluruh unit kerja Bank Mandiri seluruh wilayah Indonesia
sumber//  http://www.untirta.ac.id/berita-527-pt-bank-mandiri-persero-tbk.html

Selasa, 08 April 2014

Transformasi Bank Mandiri

Bank Mandiri didirikan pada 2 Oktober 1998, sebagai bagian dari program restrukturisasi perbankan yang dilaksanakan oleh pemerintah Indonesia. Pada bulan Juli 1999, empat bank pemerintah -- yaitu Bank Bumi Daya, Bank Dagang Negara, Bank Ekspor Impor Indonesia dan Bank Pembangunan Indonesia -- dilebur menjadi Bank Mandiri, dimana masing-masing bank tersebut memiliki peran yang tak terpisahkan dalam pembangunan perekonomian Indonesia. Sampai dengan hari ini, Bank Mandiri meneruskan tradisi selama lebih dari 140 tahun memberikan kontribusi dalam dunia perbankan dan perekonomian Indonesia.

Konsolidasi dan integrasi

Segera setelah merger, Bank Mandiri melaksanakan proses konsolidasi secara menyeluruh. Pada saat itu, kami menutup 194 kantor cabang yang saling berdekatan dan rasionalisasi jumlah karyawan dari jumlah gabungan 26.600 menjadi 17.620. Brand Bank Mandiri diimplementasikan ke semua jaringan dan seluruh kegiatan periklanan dan promosi lainnya. Salah satu prestasi Bank Mandiri yang paling signifikan adalah dengan mengganti platform teknologinya secara menyeluruh. Bank Mandiri mewarisi total 9 core banking system yang berbeda dari 4 bank pendahulunya. Bank Mandiri segera berinvestasi untuk mengkonsolidasikan sistem-sistem dari platform yang terkuat. Dibutuhkan tiga tahun dan dana sebesar US$ 200 Juta demi mengembangkan program untuk menggantikan core banking platform sebelumnya agar sesuai dengan standar perbankan ritel. Kini infrastruktur IT Bank Mandiri telah menyediakan system pengolahan data straigth-through dan interface yang seragam bagi pelanggannya. Sesuai dengan visi kami, Bank Mandiri memasuki segmen bisnis yang menguntungkan dan memiliki prospek tumbuh, sekaligus berperan sebagai institusi perbankan yang komprehensif. Untuk itu, Bank Mandiri berfokus pada segmen korporasi, komersial, mikro & ritel, serta pembiayaan konsumen dengan strategi yang berbeda di setiap bisnisnya dan bersinergi dengan seluruh segmen pasar yang ada. Kehadiran Bank Mandiri sebagai Bank Domestik Multispesialis di Indonesia dapat diterjemahkan ke dalam langkah-langkah khusus dengan menumbuhkan pangsa pasar dominan di segmen yang kami fokuskan. Selain itu, Bank Mandiri juga memiliki visi untuk menjadi bank terdepan di Indonesia. Sebagai bank publik, visi Bank Mandiri untuk menjadi bank blue chip publik di Asia Tenggara ini akan diukur berdasarkan kapitalisasi pasar.

Program Transformasi Tahap I (2005 - 2009)

Ambisi Bank Mandiri yang ditetapkan untuk 4 tahun ke depannya hanya dapat dicapai dengan mengubah organisasi kami untuk dapat beradaptasi dengan dinamika dan pergerakan pasar. Di tahun 2005, kami berkomitmen untuk menjalankan program transformasi selama 5 tahun untuk membentuk Bank Mandiri menjadi Bank Multispesialis yang Dominan. Kami menetapkanempat tema transformasi sebagai syarat utama: budaya, penjualan, aliansi dan kontrol NPL. Bank Mandiri melakukan Program Transformasi dalam tiga tahap, yaitu:

Tahap 1 (2006-2007)

Back on Track : Dalam tahapan ini, fokus utama kami adalah merekonstruksi ulang fondasi Bank Mandiri untuk pertumbuhan di masa depan

Tahap 2 (2008-2009)

Outperform the Market : Dalam periode ini, Bank Mandiri lebih menekankan ekspansi bisnis untuk menjamin pertumbuhan yang signifikan di berbagai segmen dan mencapai level profit yang mampu melampaui target rata-rata pasar

Tahap 3 (2010)

Shaping the End Game : Di tahap ini, Bank Mandiri menargetkan diri untuk menjadi bank regional terdepan melalui konsolidasi dari bisnis jasa keuangan dan lebih mengutamakan peluang strategi pertumbuhan non-organik, termasuk memperkuat kinerja anak perusahaan dan akuisisi bank atau perusahaan keuangan lainnya yang dapat memberikan nilai tambah bagi Bank Mandiri
Proses transformasi yang telah dijalankan sejak tahun 2005 hingga tahun 2010 ini secara konsisten berhasil meningkatkan kinerja Bank Mandiri. Hal ini tercermin dari peningkatan berbagai parameter finansial, diantaranya:
  • Kredit bermasalah turun signifikan, tercermin dari rasio NPL net konsolidasi yang turun dari 15,34% di tahun 2005 menjadi 0,62% di tahun 2010.
  • Laba bersih Bank Mandiri juga tumbuh sangat signifikan dari Rp 0,6 Triliun di tahun 2005 menjadi Rp 9,2 Triliun di tahun 2010.
Sejalan dengan transformasi bisnis, Bank Mandiri juga melakukan transformasi budaya dengan merumuskan kembali nilai nilai budaya untuk menjadi pedoman kerja pegawai. Bank Mandiri juga berhasil mencatat sejarah dalam peningkatan kualitas layanan, yaitu menjadi service leader perbankan nasional dengan menempati urutan pertama pelayanan prima selama empat tahun berturut-turut (tahun 2007, 2008, 2009 dan 2010) berdasarkan survey Marketing Research Indonesia (MRI). Selain itu, Bank Mandiri juga mendapat apresiasi dari berbagai pihak dalam penerapan Good Corporate Governance.
Peningkatan kinerja Bank Mandiri mendapatkan respon positif oleh investor, tercermin dari meningkatnya harga saham Bank Mandiri secara signifikan dari posisi terendah Rp 1.110 per lembar saham pada 16 November 2005, menjadi Rp 6.300,- per lembar saham pada 30 September 2011, atau meningkat 33,6% per tahunnya berdasarkan rata-rata (CAGR). Dalam kurun waktu kurang lebih 6 tahun, nilai kapitalisasi pasar Bank Mandiri meningkat sekitar 7 kali lipat, dari Rp 21,8 Triliun menjadi Rp 146,9 Triliun.

Program Transformasi Tahap II (2010 - 2014)

Saat ini Bank Mandiri tengah melaksanakan tahap transformasi lanjutan tahun 2010-2014, dimana kami telah melakukan revitalisasi visi, yaitu "Menjadi Lembaga Keuangan Indonesia yang Paling Dikagumi dan Selalu Progresif". Sejalan dengan visi tersebut, Bank Mandiri juga ditargetkan mampu mencapai nilai kapitalisasi pasar terbesar di Indonesia, yaitu di atas Rp 225 Triliun dengan pangsa pasar pendapatan mendekati 16%, ROA mencapai kisaran 2,5% dan ROE mendekati 25%, namun tetap menjaga kualitas asset yang direfleksikan dari rasio NPL gross di bawah 4%. Bank Mandiri juga berambisi untuk masuk dalam jajaran Top 5 Bank di ASEAN pada tahun 2014.
Selanjutnya di tahun 2020, Bank Mandiri menargetkan untuk masuk dalam jajaran Top 3 Bank di ASEAN dalam hal nilai kapitalisasi pasar dan menjadi pemain utama di regional. Untuk mewujudkan visi tersebut, transformasi bisnis di Bank Mandiri tahun 2010 - 2014 akan difokuskan pada 3 (tiga) area bisnis yaitu:

Wholesale transaction

Bank Mandiri akan memperkuat leadership-nya dengan menawarkan solusi transaksi keuangan yang komprehensif dan membangun hubungan yang holistik melayani institusi corporate & commercial di Indonesia.

Retail deposit & payment

Bank Mandiri memiliki aspirasi untuk menjadi bank pilihan nasabah di bidang retail deposit dengan menyediakan pengalaman perbankan yang unik dan unggul bagi para nasabahnya.

Retail Financing

Bank Mandiri memiliki aspirasi untuk meraih posisi nomor 1 atau 2 dalam segmen pembiayaan ritel, terutama untuk memenangkan persaingan di bisnis kredit perumahan, personal loan, dankartu kredit serta menjadi salah satu pemain utama di micro banking.
Ketiga area fokus tersebut didukung dengan penguatan organisasi dan peningkatan infrastruktur (cabang, IT, operation dan risk management) untuk memberikan solusi layanan terpadu. Disamping itu, Bank Mandiri didukung oleh Sumber Daya Manusia yang handal, teknologi yang selalu update, penerapan manajemen risiko dalam menjalankan bisnis secara seksama dan penuh pertimbangan, serta penerapan Good Corporate Governance yang telah teruji.

Pencapaian Bank Mandiri

Hingga Desember 2011, total aset Bank Mandiri telah mencapai Rp 551,9 Triliun, dimana jumlah ini berlipat ganda dari total aset di tahun 2006 (sebesar Rp 267 Triliun), atau tumbuh 15,6% (CAGR). Ini mengukuhkan posisi Bank Mandiri sebagai bank terbesar di Indonesia. Kredit Bank Mandiri juga tumbuh menjadi Rp 314,4 Triliun, meningkat 22% (CAGR) dari kredit tahun 2006 yang sebesar Rp 118 Triliun. Sedangkan net profit kami tumbuh menjadi Rp 12,2 Triliun, meningkat 28,3% (CAGR) dari tahun 2006 yang sebesar Rp 2,4 Triliun. Selain menjadi bank pemberi pinjaman terbesar di Indonesia (secara konsolidasi), Bank Mandiri juga merupakan bank penyimpanan terbesar di Indonesia dengan dana pihak ke tiga sebesar Rp 422,3 Triliun. Bank Mandiri juga telah berhasil mempertahankan kualitas aset yang kuat, dibuktikan dengan nilai Gross dan Net NPL Ratio yang masing-masing sebesar 2,21% dan 0,52%. Salah satu momen penting dalam proses transformasi tahap 2 ini adalah suksesnya rights issue pada Februari 2011 untuk memperkuat permodalan bank. Dengan ini, modal Bank Mandiri telah mencapai Rp 62,7 Triliun, meningkat dari 48,9% tahun ke tahun dan menjadi bank pertama di Indonesia yang meraih gelar Bank Internasional, sesuai dengan Banking Architecture atau Arsitektur Perbankan Indonesia (API).
Kinerja Bank Mandiri juga didukung oleh perusahaan-perusahaan anak yang memberikan kontribusi pendapatan signifikan, yaitu sekitar 12% dari laba bersih konsolidasi Bank Mandiri. Kini Bank Mandiri memiliki jaringan ATM terbesar, yaitu sejumlah 10.000 unit yang telah terpasang dan tersebar di seluruh Indonesia. Ini menjadikan Bank Mandiri sebagai bank terbaik dalam pelayanan selama 4 tahun berturut-turut dan menjadi perusahaan yang paling terpercaya di Indonesia untuk Good Corporate Govenance selama 5 tahun berturut-turut. Setelah memenuhi berbagai persyaratan dari Bank Indonesia, Bank Mandiri kini berhak untuk menyandang titel sebagai Bank Internasional yang telah beroperasi di sektor perbankan regional dan siap menjadi bank panutan di Indonesia. Hal ini turut didukung dengan visi kami untuk menjadi Lembaga Keuangan yang Paling Dikagumi dan Paling Progresif di Indonesia.

Meningkatkan Sinergi & Nilai dari Perusahaan Anak

Untuk mendukung berbagai segmen usaha kami serta membangun budaya kerja berbasis kinerja yang kuat di seluruh organisasi, Bank Mandiri menerapkan sistem organisasi berbasis Strategic Business Unit (SBU) yang terdiri dari berbagai unit bisnis yang strategis. Unit bisnis strategis ini akan bergerak sebagai generator penghasil profit pertumbuhan Bank Mandiri di masa depan, sebagai inti dari perusahaan dan juga sebagai layanan fungsi bersama. Bank Mandiri juga didukung oleh beberapa perusahaan anak untuk meningkatkan performa unit-unit bisnis strategisnya, diantaranya Corporate Banking, Commercial Business Banking, Micro & Retail Banking, Treasury & International Banking serta Consumer Finance. Bank Mandiri senantiasa mencari peluang bisnis yang saling menguntungkan guna menciptakan sinergi, membangun aliansi sekaligus memperkuat bisnis pendukungnya melalui perusahaan anak Bank Mandiri, diantaranya Mandiri Sekuritas yang bergerak di bidang investment banking, Mandiri AXA Financial Service yang bergerak di bidang asuransi, Bank Syariah Mandiri yang bergerak di bidang perbankan syariah, Bank Sinar Harapan Bali yang bergerak di bidang perbankan mikro dan Mandiri Tunas Finance yang bergerak di bidang multi-finance. Di tahun 2011, Bank Mandiri berhasil mengakuisisi Mandiri AXA General Insurance (MAGI), yaitu perusahaan hasil kerjasama antara Bank Mandiri dan AXA Societe Anonyme, untuk memperkuat penetrasi Bank Mandiri di bisnis asuransi umum. Dengan memiliki berbagai perusahaan anak yang mendukung bisnis kami, Bank Mandiri kini memegang peranan sebagai institusi finansial holding terkuat di Indonesia.

sumber//  http://www.bankmandiri.co.id/corporate01/about_profile.asp